Home Berita Untung Tipis Bagi Pemilik Warung Makan, Dampak Telur Mahal

Untung Tipis Bagi Pemilik Warung Makan, Dampak Telur Mahal

41
0

IJTIMALANG.COM – Usai bisa bernafas sedikit lega usai harga minyak goreng turun dan stok yang tak langka lagi. Kini masyarakat kembali dihadapkan pada tingginya harga telur ayam di pasaran. Harga telur ayam hingga Rp 30 ribu perkilogram disebut menyulitkan bagi masyarakat kecil khususnya bagi masyarakat yang berusaha di sektor warung makan.

Seperti yang dirasakan oleh Hari Purnomo, pemilik usaha kuliner yang juga mengalami imbas dari mahalnya harga telur ayam ini. Mahalnya harga telur yang terjadi saat ini cukup menyulitkan bagi warung makan seperti miliknya.

“Tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi saat ini, setelah bisa sedikit bernapas lega karena harga minyak goreng yang turun, kini masyarakat kecil seperti dirinya harus dihadapkan pada tingginya harga telur ayam.” Ujarnya.

Padahal setiap harinya warung makan milik Hari bisa menghabiskan 5-8 kilogram telur ayam. Telur ayam tersebut biasa menjadi kare, bali telur, hingga telur dadar. Dengan harga yang tinggi, pedagang hanya mampu mengambil untung sangat tipis karena pedagang tidak mungkin menaikkan harga jual makanan. Pedagang yang berharap ada solusi nyata dari pemerintah untuk bisa menekan harga jual telur di pasaran.

“Tetap, kebutuhan tidak kita kurangi tapi memang keuntungan tipis dari harga telur yang melonjak,” Terangnya

Kenaikan harga telur ayam ini dipicu oleh kenaikan harga pakan ayam di peternakan. Selain itu, tingginya harga telur juga tidak sepenuhnya membawa untung bagi peternak ayam petelur karena tigginya harga telur dibarengi dengan membengkaknya biaya produksi. (Dedik Prasetyo)

Previous articleSambut Hari PMI, IJTI Malang Mengajak Masyarakat Donor Darah
Next articleDemo Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa Sempat Adu Dorong Dengan Polisi