Home Berita Kopi Robusta, Bukan Kopi Kelas 2

Kopi Robusta, Bukan Kopi Kelas 2

44
0

IJTIMALANG.COM – Sejumlah wilayah di Kabupaten Malang, yang akrab dengan sebutan Amstirdam (Ampel Gading Tirtoyudo dan Dampit) dikenal sebagai salah satu sentranya penghasil varietas kopi jenis robusta  di Nusantara.

Banyaknya perkebunan kopi peninggalan Belanda membuat sebagian besar masyarakat di wilayah ini menggantungkan mata pencahariannya pada tanaman ini.

Kabupaten Malang sebagai “ibu kandung” kopi robusta Indonesia yang merupakan titik awal berkembangnya kopi varietas robusta di Indonesia, saat ini menjadi salah satu daerah penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia.

Dalam rangka mendukung meningkatnya kualitas dan kuantitas kopi robusta Dampit, sejumlah penggiat dunia perkopian yang tergabung dalam Akartana menyelenggarakan diskusi dengan mengusung tema “Kopi Robusta, Bukan Kopi Kelas 2”.

Acara diskusi yang digelar di Eco Wisata Kebun Kopi Amadanom Dampit,  yang terletak di jalan Panji, Dampit, Jawa Timur.  yang menghadirkan pembicara dalam diskusi bersama para petani tanaman kopi. Antara lain adalah Dr. Manuel Diaz, yang merupakan konsultan dan expert kopi dari Mexico, serta Bapak Rizal Dharyono Kertosastro, selaku pelaku bisnis kopi, dan juga pemilik akartana.

Kopi robusta asal Kecamatan Dampit, sudah dikenal kalayak banyak memiliki cita rasa yang unik. Selama proses penanaman, masa panen hingga pengolahan biji kopi, atau yang familiar di kalangan pecinta kopi. Adalah proses rosting atau pemanggangan biji kopi. Sehingga muncul cita rasa unik yang otentik dari biji kopi jenis Robusta ini.

“Robusta bukanlah kopi kelas kedua, seperti yang banyak digambarkan masyarakat kita. Dibanding dengan jenis biji kopi yang lainnya. Dengan pengelolaan yang baik dari petani. Maka hasil yang didapatkanpun akan meningkat, baik secara ekonomis maupun kualitas dari hasil tanaman kopi petani.” Ungkap Rizal Kertosastro selaku pelaku bisnis kopi, dan juga pemilik akartana.

Sementara itu, Manuel bercerita bahwa Indonesia terutama kawasan Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang ini merupakan pusat dari kopi robusta. Dia pun menyebut bahwa Indonesia adalah pusat untuk riset dunia perkopian.

“Jadi kalian harus tahu bahwa Indonesia ini pusat riset terutama robusta. Saya berharap, Akartana ini bisa melakukan pendampingan ke petani agar bisa menaikkan kelas kopi asli sini (Dampit),” ujarnya.

Untuk diketahui, Industri kopi di Indonesia mengalami pertumbuhan sebanyak 250 persen dalam 10 tahun terakhir. Kopi menjadi komoditas perkebunan terbesar ketiga dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 16,15 persen. Kurang lebih ada 7,8 juta jiwa masyarakat menggantungkan hidupnya dari perkebunan kopi. (Redaksi)

Previous articleMahaguru Kopi Dunia, Sambangi Amandanom. Gali Potensi Keunikan Kopi Dampit
Next articleKejuaraan Pencak Silat Kapolres Malang Cup 2022 Resmi Ditutup, Berikut Daftar Atlet Muda Berprestasi