Home Berita Entas-Entas, Tradisi Umat Hindu di Malang Antar Arwah Leluhur

Entas-Entas, Tradisi Umat Hindu di Malang Antar Arwah Leluhur

88
0

IJTIMALANG.COM – Keberagaman budaya di Tanah Air Indonesia menarik untuk terus dirawat dan dipelajari. Budaya yang diwariskan nenek moyang terdahulu yang harus dijaga, sehingga tidak mudah sirna digerus zaman. Salah satunya,  tradisi Entas-Entas leluhur di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Masyarakat beragama Hindu di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji ini, sering melaksanakan tradisi upacara adat entas-entas bagi para leluhurnya. Pemangku Pura Eka Kapti Desa Glanggang Rudi membeberkan, tradisi upacara entas-entas di Desa Glanggang berlangsung sejak dahulu.

“Tujuan entas-entas ini untuk mengantarkan roh beliau kepada sang pencipta dan mendapatkan tempat yang terbaik,” ungkap Rudi, Selasa (6/9/2022).

“Entas-entas itu sama dengan ‘Ngaben’ (salah satu upacara yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali dan tergolong sebagai upacara Pitra Yadnya-red). Kalau ngaben itu pembakarannya langsung saat orang tersebut meninggal, badan kasarnya langsung dibakar. Tetapi kalau entas-entas ini dilakukan setelahnya dengan secara simbolis,” Rudi menjabarkan.

Menurut Rudi, pada tahun ini upacara entas-entas di Desa Glanggang dilaksanakan selama tiga hari, yakni sejak Senin (27/8/2022) hingga Rabu (29/8/2022) lalu.

Ia mengatakan upacara adat itu diawali dengan upacara Matur Pioning atau ziarah ke makam punden desa dan leluhur yang akan dientas. Selanjutnya, dilaksanakan upacara kirim doa yang diadakan di rumah.

“Pada upacara kirim doa itu, arwah atau roh leluhur yang akan dientas dipanggil, kalau dalam umat Hindu namanya Diulapi. Diundang ke sesajen yang sudah disediakan,” urai Rudi.

Sedang acara puncaknya, diawali dengan upacara Pecaruan. Kata Rudi, Caru berasal dari Jawa Kuno artinya harmonis.

“Jadi sebelum acara dimulai, kita mengharmoniskan alam dulu. Harmonis dengan sesama manusia. Supaya acara berjalan dengan lancar,” tegas Rudi.

Setelah Pecaruan, lanjutnya, dilakukan upacara penyempurnaan Raga Sarirah atau badan kasar manusia.

“Di upacara penyempurnaan ditandai dengan pembakaran lima unsur panca maha buta yakni, unsur tanah, air, api, udara dan Akasa atau ruang. Itu disempurnakan, karena kelima unsur itu merupakan pembentuk badan kasar manusia,”  jelasnya.

Kemudian dilanjutkan dengan upacara Puspa Sarirah badan halus. Diterangkan Rudi, badan halus manusia menurut Hindu terdiri dari Pancatan Mantra.

“Pancatan mantra itu pembentuk badan halus atau Sukma Sarirah. Itu disempurnakan dengan cara diupacarai oleh Pandita. Kemudian di Ngaben atau dibakar. Setelah dibakar diupacarai lagi, selanjutnya dilarung di sungai,” tuturnya.

Usai upacara badan halus sempurna, Rudi menyebut, upacara yang terakhir adalah Upacara Ngelinggihang Dewa Hyang.

“Artinya, leluhur kita yang diupacarai hari ini sudah sama statusnya dengan Dewa. Orang Hindu percaya, kalau leluhur sudah di-upacarai entas-entas menjadi Dewa Hyang dan berhak untuk disembah,” tukasnya.

Rudi menambahkan, saat ini juga dilaksanakan upacara Melaspas, yaitu upacara pembersihan dan penyucian bangunan, alat baru seperti rumah, kantor, gedung, dan lain sebagainya.

“Yakni, menghilangkan kotoran yang ada di rumah. Kotoran itu saat waktu membangun seperti bahan bangunan. Tujuannya, agar rumah tersebut layak dihuni dan memiliki nilai kesakralan atau kesucian” pungkas Rudi.

Sementara itu, salah satu warga Desa Glanggang Pakisaji, Toni Purwanto mengaku melakukan upacara entas-entas untuk ayahnya bernama Samenun beserta leluhurnya.

Toni mengatakan bagi leluhur yang dahulu mungkin meninggalnya karena kecelakaan atau kena musibah, dengan upacara entas-entas ini dapat mengantarkan roh kepada sang Pencipta.

“Supaya tidak ada ikatan di tempat itu (lokasi kejadian). Dengan begitu, saya bisa menepati darma saya sebagai warga Hindu,” jelas Toni.

“Semoga upacara entas-entas. Dapat menjadikan roh orang tua dan leluhur saya bersatu dengan penciptanya,” imbuhnya.

Ia berharap, usai dilakukan upacara entas-entas arwah atau panca maha buta dapat kembali ke tempat asalnya, sehingga bisa memperlancar perjalanan roh menuju ke alam yang tertinggi.

“Terima kasih kepada Romo Pandita, Romo Pemangku beserta keluarga yang mendukung upacara entas-entas ini. Tanpa bantuan beliau-beliau tidak mungkin upacara ini terlaksana dengan lancar,” pungkas Toni.

Previous articleIbu Iriana Ajak Istri Presiden Filipina Melihat Pameran Kain Asli Suku Badui
Next articleJavier Roca Resmi Nahkodai Arema FC Gantikan Eduardo Almeida