Home Berita Mahaguru Kopi Dunia, Sambangi Amandanom. Gali Potensi Keunikan Kopi Dampit

Mahaguru Kopi Dunia, Sambangi Amandanom. Gali Potensi Keunikan Kopi Dampit

294
0

IJTI MALANG.COM – Mahaguru kopi dunia Manuel Diaz mendapat sambutan yang hangat dari petani saat mengunjungi perkebunan kopi di Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (31/8). Manuel Diaz, instruktur Coffee Quality Institute (CQI) hadir atas undangan Akartana untuk memberikan edukasi budidaya kopi pada petani kopi di Dampit, sebuah daerah yang terkenal dengan produksi kopi robusta-nya sejak 1922.

Dengan mengusung semangat Kopi robusta bukan kopi kelas dua. Yang jelas berbeda cita rasanya dengan jenis kopi lainnya, seperti Arabika. Maka biji kopi hasil para petani di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang inipun juga memiliki keunikan cita rasanya sendiri.

Maka dari itu, seharusnya petani dalam membudidaya kopi robusta tidak perlu berkecil hati. Dengan perlakuan pada tanaman yang baik, saat perawatan, masa panen, hingga pasca panen. Maka akan didapatkan kualitas terbaik, dengan nilai jual tinggi.

Manuel Diaz, yang merupakan pemilik lembaga ONA Consulting di Meksiko. Dan telah memberikan pelatihan kopi sejak tahun 1988, dengan segudang pengalaman. Terutama di bidang cupping dan roasting di berbagai negara di dunia, seperti USA, Guatemala, Italia, Uganda, Korea Selatan hingga Indonesia.

“Apalagi di Dampit ini punya sejarah yang kuat, usia perkebunannya sudah 100 tahun, itu menjadi nilai lebih”, tambah Diaz yang menguasai empat bahasa, Spanyol, Inggris, Italia dan Portugis.

Rizal Kertosastro, pemilik Akartana menyatakan pada era perkebunan Margosuko masih beroperasi di Dampit memiliki Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur soal petik merah.

“Jadi kalau misalkan pekan ini petani memanen sebatang pohon pada hari Senin, maka harus dikasih jeda satu pekan lagi untuk panen selanjutnya atau Senin depannya, kalau tidak petani bisa kena sanksi,” jelas Rizal.

“Memang Margosuko sempat vakum, maka Perdes tersebut sekarang tidak diberlakukan lagi. Saya mendengar keluhan petani, maka ikhtiar saya mendirikan Akartana ini karena ingin meneruskan apa yang telah dilakukan eyang dan bapak saya di Margosuko,” tambah Rizal.

Haryono, seorang petani di Dampit mengamini soal Perdes tersebut. Dulu mereka mau mengikuti Perdes karena mendapatkan harga yang layak dari Margosuko.

“Mungkin kelihatannya ribet, tapi ya nggak apa-apa, karena jerih payah petani mendapatkan harga yang layak”, ungkap Haryono.

Akartana sendiri sudah memiliki rencana yang matang untuk kembali menghidupkan perkebunan Margosuko di Dampit yang memang telah berdiri sebelum era Kemerdekaan RI.

Tahap awal, pada akhir tahun Akartana akan menanam kembali 9 hektar kopi Robusta dan akan terus melakukan perluasan di kawasan perkebunan, yang sekarang beralih fungsi menjadi kebun tebu.

Kondisi pabrik pengolahan yang sudah menua juga akan mulai diremajakan. Sejumlah langkah awal perkakas kantor sudah mulai disiapkan untuk administrasi dan pengaktifan perkebunan. Dengan kembalinya pabrik pengolahan biji kopi Margosuko diharapkan dapat membantu petani meningkatkan kualitas biji kopi robusta Dampit maupun pemasaran biji kopi tersebut. (Redaksi)

Previous articleKopi Wine, Cita Rasa Juara Kopi Robusta Dampit. Berjaya di Negeri Orang, Karam di Negeri Sendiri
Next articleKopi Robusta, Bukan Kopi Kelas 2